Showing posts with label 78. Show all posts
Showing posts with label 78. Show all posts
2 com

This Old Man in School

So, I knew this old man. Namanya pak Malik. Dia penjaga sekolah sewaktu saya masih SMA. Entah di sekolah lain, kalo di sekolah saya, si pak Malik dan pak Rauf ini luar biasa. Temennya anak-anak. Angels.

Sampai detik-detik terakhir (bahkan kadang udah lewat jam masuk), mereka masih membuka pintu gerbang. Kalaupun akhirnya harus menutup pintu, they always looked sorry. Bukan tipe penjaga sekolah yang jadi sombong karena dikasih 'power' sama sekolah.

Dulu, dengan status saya yang masih murid baru, saya masih belum kenal siapapun di sekolah. Sebelum bertemu dengan sahabat-sahabat gila saya. Suatu sore saya permisi menumpang di posnya sambil menunggu jemputan papa. Papa pasti selalu kena macet. Ngobrol ngalor-ngidul. Dari situlah saya kenal mereka.

***

Menginjak tahun kedua saya di SMA. 2004. So, I knew this guy. This guy would be my bestfriend later. Karena jalan pulang yang searah, dan males nunggu jemputan papa yang terlalu sore, saya selalu nebeng pulang bareng dia. And it happened until the senior year came.

Pak Malik selalu bilang, "hati-hati!"

Ketika di tahun terakhir dan di hari-hari terakhir saya di SMA. 2006. Suatu hari di jam pulang sekolah ketika saya menunggu sahabat saya itu mengambil motornya di parkiran, Pak Malik berkata sesuatu, "Ntar kalo lo udah kuliah, udah kerja, udah nikah jangan lupa ya sama gue." Saya hanya cengar-cengir saja. Ketika sahabat saya itu datang, dia membisikkan sesuatu ke telinga saya, "Jangan lupa undangannya ya," sambil melirik ke arah sahabat saya yang sedang membetulkan helmnya.

"Apa sih, Pak..."

***

Tahun terakhir kuliah. 2010. Akhirnya sahabat saya ini mengungkapkan rasa sukanya yang ternyata sudah dipendamnya sejak lama. Saya langsung teringat pak Malik. He was right. Somehow, saya berpikir, dia harus tau ini.

Jadi, pulanglah saya ke Jakarta dengan alasan reuni ekskul. And so I met him again. Lalu saya melambai kepadanya dari kejauhan. Masih ingatkah dia dengan saya?

"Kemana aja lo? Nggak pernah keliatan. Sombong banget sih sama gue. Gimana Bandung?" Dia masih ingat. Sangat ingat. :')

"Pak, kamu harus tau. Aku jadian sama dia."
"Tuh kan, apa gue bilang..."

"Jangan lupa ya undangannya..."

***

Kerja, hampir menginjak tahun pertama. April 2012. Tenggelam oleh pekerjaan. Sampai suatu hari saya menerima broadcast message, "Inna lillahi wa inna illaihi roji'un. Telah meninggal pak Malik, satpam SMAN 78. Semoa semua amal ibadahnya dibalas oleh Allah SWT."

Deg.

Pak Malik.

Saya begitu tenggelam dengan pekerjaan. Sampai saya nggak pernah sempat memberitahunya. Memberitahu bahwa kami sudah tidak bersama lagi, bahkan tidak bisa menjadi sahabat lagi. Saya ingin dia tau. Bukan untuk menyalahkannya. Bukan.

Tapi karena dia tau saat kami bersama. Tak adil rasanya jika dia tidak tau saat kami tak lagi bersama.

Pak, maaf aku nggak bisa ngasih undangannya. Because, people do change.

Or maybe he'd already knew it.

***

I bet he knows it now.

Pak, could you help me one thing last. There's one named Malik there, don't look for him. Ask him, where's Ridwan instead. Because you're belong with Ridwan. Because you've always lived like angel here.

Selamat jalan, Pak. Rest in peace.

Hei, saya akan tetap mengirim undangannya kok, Pak. Tapi dengan cetakan nama yang berbeda tentunya. Dengan pria yang bisa membuat saya bahagia lebih dari sahabat saya. Insya Allah. :)


Neysa.
Read more »
0 com

Normal and Stable

Jadi keingetan sesuatu. Kayaknya bakal panjang nih postingnya.

Berawal dari browsing sana-sini, sampai nemu 'catatan harian online'-nya si wanita ini. Trus jadi keingetan sesuatu. Gini awalnya.

Suatu hari, si pria ini entah dari mana ngeliat profil maya-ku. Waktu kali pertama kita ngobrol adalah pada saat si pria ini nge-'add' salah satu akun messengerku. Awalnya nggak aku tanggepin sampe dia menyebut salah satu teman dekatku waktu SMA. Anyway, si pria ini bilang dia kenal banget sama teman SMA-ku ini, teman kecilnya apa kalo nggak salah. Akhirnya, kita ngobrol banyak.

Awalnya juga biasa aja ngobrol sama si pria ini. Pas aku tanya si teman SMA-ku, dia kaget juga kenapa aku bisa kenal, tapi intinya dia tau si teman kecilnya itu, dan aku percaya teman SMA-ku ini. Tapi lama-lama, obrolannya mulai intens. He began to text me. And that's when I knew he began to 'approach' me. (halah) Bukannya pede, tapi aku seperti punya radar when they did it. Karena pada dasarnya, aku takut didekati pria. Seriously. Even my boyfriend ever said he always scared to tell that he loves me, karena pada dasarnya dia tau aku yang 'penakut' ini, dan dia nggak mau aku takut sama dia karena perasaannya dia. (Padahal kan waktu itu aku juga ngarep dia ngomong, dasaaaarr...)

Intinya, aku mulai takut sama pria ini. Apalagi waktu dia mulai menunjukkan tanda-tanda tertentu. Aku selalu mengibaratkan pria-pria dalam tahap ini seperti burung:
  1. Burung merak jantan pada musim kawin yang ingin mendapatkan pasangannya, biasanya akan mengembangkan ekor-ekornya yang indah. Tujuannya: supaya terlihat keren, dan pasangannya jadi takjub
  2. Burung unta pada musim kawin yang ingin mendapatkan pasangannya, biasanya melakukan tarian konyol dengan memutar-mutar tubuhnya. Tujuannya: supaya pasangannya terkesan dia 'jago akan sesuatu'
Dalam keadaan normal dan stabil, biasanya aku langsung males nih kalo ada yang ngedeketin kayak gini. Ibarat bunglon, aku akan mengubah warnaku jadi warna-warna tajam supaya bunglon jantan tau aku mengirim pesan, "jangan dekat-dekat!"

Anywhoo, aku nggak kayak bunglon. Jadi walaupun terdengar klise, tapi aku ngasih sinyal 'kita temenan aja', and I mean it. I really hoped we could be friend. Tapi ternyata doi nggak mau tuh, and one day he disappeared.

Time flies. Nothing's changed with me.

Someday, somehow, I was checking on my social network account, and I found this girl. Sebenarnya wanita ini juga sekolah di SMA yang sama denganku, dan dia berteman dengan teman-temanku. I know her, and I'm pretty sure she knows me, but we didn't talk each other. Yah, seperti itulah. She's kinda changing her relationship status, with someone I knew I'm familiar with. And, guess who?

Yea, that guy. That exact same guy.

To me, see that, I was like, "wow, small world, huh?!" Beneran nggak ada perasaan jealous sama sekali. Bahkan aku sempat nge-add si pria ini, karena aku anggap dia teman lama. Serius deh nggak pake tanda kutip. Dan pas ngeliat tanggal jadiannya, aku sempat mengelus-ngelus dagu.

Waktu yang sama dengan waktu dia menghilang. Hmmm... (naluri provoost plus kebanyakan nonton film detektif, hadeh.)

Hal pertama yang terpikir: "Antara kebetulan, atau emang 'pindahnya' cepat, atau dia pasang 'perangkap' dimana-mana?" Dan jujur, perasaanku nggak enak banget, apalagi setelah dulu sempat menebak pria macam apa dia. Jujur, aku pengen ngasih tau si wanita ini, tapi gimana lagi. Pertama, mereka udah jadian. Kedua, aku nggak terlalu deket sama si wanita. Masa ujug-ujug. Akhirnya aku pilih diam.

And I made BAD BAD decision. Beberapa bulan kemudian aku penasaran kok belum ada tanda-tanda si pria ini meng-confirm undangan pertemananku ya? Dan ternyata pas di cek, emang belum di-confirm. Sempat bertanya-tanya tapi akhirnya malah lupa gara-gara terlalu excited for going abroad to Turkey. Yay! Dan karena perjalanan dan internet yang cuma bisa di hotel, akhirnya aku jarang online.

Hari itu, bosan sendirian di hotel pas abis mandi (roomate-ku lagi ngecengin bule-bule Turki, haha), akhirnya ku putuskan hot spot-an di laptop. First notification I got was from that guy. He confirmed me. And I smelt something fishy. Dan benar saja, ternyata mereka berdua putus. And the day he confirmed me was the exact day he broke up with her! Even he wall-ed me with something nice and 'ganjen' and 'sok deket' words. Tapi terus dia hapus, dan diganti something polite like, "Hey, Ney, gimana kabarnya?" But hell-ooo, it's written on my email. Asshole.

Dan baru tau baru-baru ini, they broke up because he cheated on her. JERK!

Dan aku semakin merasa bersalah sama si wanita ini, because I've never told her. What would you do if you're me?




P.s: Pesan moralnya adalah kita bisa menilai seseorang dengan benar ketika kita berada di situasi yang sangat normal dan stabil. So, be stable. Dan untuk si wanita ini, saya benar-benar minta maaf. I'm really sure that you're worth the great guy, way much greater than him. Fighting! :')
Read more »
0 com

How To Say Goodbye


To get up and go
To catch the last train
To get in some car
And drive out again
To (never) come back this way....
*of course you'll be back!*
And have to say....

Goodbye, so long, farewell, au revoir..


Ney.


p.s: i always feel secure around his arms, no matter what. Daah Olan, missed you already *sniff* :'(

p.s.s: Thx to Husni Jayadi, for the song.
Read more »
0 com

Quote by Me.


saat bertemu sahabat,
terlalu byk yg terfikir hingga tak ada satupun yg terucap,

tapi dia mendengarmu. :)

Ney.
Read more »
0 com

Kisah Klasik Untuk Masa Depan.

click the picture to have a bigger size



Bersenang-senanglah
Kar'na hari ini yang 'kan kita rindukan
Di hari nanti, sebuah kisah klasik untuk masa depan
Bersenang-senanglah
Kar'na waktu ini yang 'kan kita banggakan di hari tua

Ney.
Read more »
0 com

So Far And Still So Close

Kita nggak akan pernah tau apa yang akan menunggu di depan kita. Di satu sisi, aku benci banget keadaan ini karena aku nggak pernah bisa merencanakan apapun (karena rencana hanyalah rencana, and God will do the rest), tapi di sisi lain, i kinda like it karena hanya bisa terkejut dan tertawa bahwa ternyata God has sense of humour.

Apa sih ini, aku juga nggak tau mau nulis apa.
Terlalu banyak yang mo keluar di otak, malah bingung mana yang mo dikeluarin duluan. Alhasil, malah diare. Heuu.. Yeaaa, agak memalukan penyakitku kali ini. Masuk angin + maag + diare = Paket komplit. Dan, hasilnya, aku malah duduk di sini and do nothing except writing.

He's completely new 'old' face. Maksudnya, muka baru di lingkungan lama. Lucu kalo diinget-inget bagaimana dunia berputar di sekeliling kita selama ini, and we never really 'see' each other.

Bagaimana dunia mempermainkan kita dalam 'satu boks' dan memberi sekat tipis di antara kita jadi kita sama-sama nggak saling melihat satu sama lain, padahal SD-SMP kita tetanggaan, dia kenal beberapa teman-teman SD-SMP ku (beberapa bahkan tetangga-an 'tinggal-ngesot' sama dia), dia sangat tau seluk-beluk SMA ku (karena kakak, dan kedua adiknya juga sekolah di tempat yang sama denganku, bahkan sahabatnya juga), dan nggak cuma itu, dia juga punya ex di tempat kuliahku (okay, let's face it). Dan yaa, kita jadi salah satu 'korban' universe's jokes.

Mungkin, bagi yang kenal aku dengan baik, pasti kaget. Gara-gara aku kok secara mendadak dan mengejutkan tiba-tiba bisa suka sama 'cowok'. Wait, i'm not lesbian. I'm fully straight. And I do like boys. Tapi, kalo udah berurusan sama 'hati', nggak tau kenapa, aku bisa jadi takut setengah mati. Kalo udah takut begini, boro-boro melanjutkan hubungan, yang ada aku malah kabur. Beberapa orang bilang aku suka mempermainkan perasaan orang.

Tapi bukan. Aku justru mempermainkan perasaanku sendiri. Dan aku juga benci itu.

Ekstrimnya, bahkan salah satu senior paskibraku dengan berlebihannya menanggapi keputusanku kali ini untuk getting closer with this-new-guy dengan kata-kata, "Wahh hebat juga si R**, pake pelet apa dia kok bisa bikin kamu tiba-tiba berani sama cowok?" Sialan.

Aku juga nggak tau kenapa bisa begini.
Kenapa bisa jadi seperti sekarang. Kenapa bisa 'sedalem' ini dalam tempo yang 'sesingkat' ini. And guess what, semuanya tuh awalnya pake feeling. Semuanya. Heboh. Dan justru aku jadi takut kenapa aku nggak takut. Bagi yang bertanya-tanya gimana awal ketemunya, I can't explain. Pasti banyak prejudice, dan aku nggak mau kalo itu menyangkut dia. Kalo aku doang sih nggak apa-apa. Udah biasa.

Let me explain how I feel.

Kadang aku sedih banget kalo dia lagi marahin aku, tapi sekaligus seneng dan takut. Senengnya karena ada yang perhatian, sedihnya karena aku bikin dia marah, takutnya karena omongan dia yang marah jadi omongan terakhir yang paling ku ingat tentang dia. (Karena kita jauh, kadang aku takut ada apa-apa. Dan ketika terjadi apa-apa, aku nggak mau banget ingatan terakhirku tentang dia adalah pada saat dia marah sama aku)

Kalo ngeliat bulan di atas sana.
Aku jadi suka mikir yang aneh-aneh, tapi takut disuruh keramas, jadi aku nggak pernah ngomong ini ke dia. Biar kita jauh, anehnya, bulan di langit yang kita lihat tuh bentuknya sama, cahayanya sama, gedenya sama. Hal ini bikin aku merinding sekaligus mikir, how close we are.

Aku nggak pernah nuntut apa-apa dari dia. He's far from perfection, and neither do I. Dan aku justru sangat suka ketidak-sempurnaannya itu. Padahal pengalamanku yang dulu-dulu, aku selalu melihat kekurangan orang-orang yang mendekatiku. Dan hal itu yang bikin aku jadi nggak pernah dewasa. Padahal kalo dipikir-pikir, dia yang terjauh, tapi beneran nggak pernah ada kata-kata 'seharusnya..'

Dan aku gampang ilfil. Dilarang dikit, ilfil. Dimarahin dikit, nggak terima. Di-agresif-in dikit, ngibrit. Digombalin dikit, jijay (dan ngibrit juga kemudian). Macem-macemlah. And he did it all. Dan aku nggak ilfil. Beneran pake pelet nih, hihi..

Dan dia bener-bener jahat. Karena udah bikin aku addicted. He's my real heroine. Haha, keramas!

Oia, keramas itu kata-kata yang kita pake kalo konteksnya gombal. Gombal lalu kita plesetan jadi gimbal. Makanya biar nggak gimbal, keramas dulu.. Hehe.

Aku nggak tau kenapa jadi ngomongin ini. Nggak tau juga tujuan nulis ini untuk apa. Jadi lebih baik diakhiri sebelum makin gimbal kayak penyanyi reggae. Haha!

Today's Soundtrack: So Close - Alan Menken (ost. Enchanted)

Fave Part:

So close to reaching
That famous happy and
Almost believing
This one's not pretend
Now you're beside me
And look how far we've come
So far
We are
So close...

Oh, how could I face the faceless days
If I should lose you now?

... So close, and still
So far (harusnya dibalik nih. So far and still so close.. lohh..lohh.. haha)



Chao,

Ney
Read more »
0 com

High School Madness

Nyebelin! Udah nulis panjang-panjang, tiba-tiba keapus. Mana draft-nya udah keburu ke apus juga. Dammit! *menghela nafas panjang* Soo, here we go again.. (Mungkin nggak se-panjang yang ku tulis tadi, abis males banget ngulang lagi..)

***

Ternyata oh ternyata, setelah diutak-atik ke sana kemari, sekaligus dapet bantuan dari si dia, yang juga ikut mengutak-utik blog, ternyata emang nggak bisa dimunculin si kolom komen di blog
ku yang ribet tersayang ini, heuu. Tapi, berhubung aku udah terlanjur cinta sama si layout yang ini, dan tidak menemukan cinta yang template-template lain yang ku browsing di internet seharian ini, akhirnya kuputuskan untuk tetap menggunakan template yang ini.

Trus masalah si kolom komen (masih berharap ada keajaiban yang bisa memunculkan si kolom komen di blogku sih) itu, aku memutuskan untuk menggunakan si kolom chat box sebagai penggantinya (itu juga kalo ada yang mo ngasih komen, hehe). Jadi tulis di sa
na aja ya bo'.

Oia, trus hari ini kutambahin playlist imeem juga di blogku. Itu juga setelah bersusah payah nyari-nyari lagunya dulu, haha. Tapi maaf dulu sebelumnya, kalo ternyata lagunya justru bikin tambah ngantuk (selain tulisannya), karena bagi sebagian orang (yang ku kenal), mereka justru menghina selera musikku karena bikin mereka ngantuk. Emang aku suka musik jadul, tapi juga suka musik jaman sekarang kok. Panik,haha! Coba aja play aja playlist-nya, dan buktikan sendiri. Haha.

And yes, I love Frank Sinatra. Sayangnya, lagu-lagu Frank Sinatra di imeem banyak banget tapi jarang yang familiar di kupingku. Jadi, malah banyak lagunya Frank Sinatra yang udah di cover version
sama orang lain, yang rekamannya lebih bagus. Dengerin aja deh.

***

Eniwei, kemarin aku abis blog-walking, dan
menemukan beberapa blog orang yang berasal dari SMA yang sama denganku, SMAN 78, Jakarta Barat. Hmm, jadi bernostalgia gitu deh. Jadi inget banyak hal. Mulai dari yang sedih-sedih, gila-gila, sampe yang seneng-seneng. Jadi inget juga kata orang-orang yang bilang kalo masa-masa SMA itu adalah masa yang paling indah. Bener nggak sih?

Hmm, jawabanku iya. 'Indah' bukan berarti indah kayak gambar pemandangannya anak SD yang ada gambar dua gunung, dengan jalan di tengahnya, sunset di antaranya, dengan sawah dan rumah di sebelah kanan dan kiri jalan. Tak lupa awan dan burung di atas gunung. Bukan, b
ukan itu. Aku menyebutnya indah, bukan pula karena jalanku yang lurus-lurus aja tanpa halangan. Karena jalanku waktu itu jauh dari mulus, malah penuh dengan batu dan kerikil.

Tapi serius deh, aku sempet stres banget waktu itu. Apalagi waktu baru masuk dulu, aku ditempatkan di kelas yang 'katanya' unggulan. Dan sekelas dengan murid-murid 'unggulan' itu feels like hell. Mungkin karena sama-sama dulunya (waktu SMP) juara, jadi jiwa kompetisinya kental banget (dan kadang nggak sehat), belom lagi egois dan individualistisnya yang kenceng banget, dan juga jangan lupakan sekelas itu isinya 'mantan' juara di SMP dan ingin mengulang kesuksesannya di SMA (baca: A-M-B-I-S-I-U-S).

Waaw, padahal aku cuma kebetulan aja punya nilai bagus waktu SMP. Kebetulan aku masih rajin, kebetulan aku fokus
banget, kebetulan aku ngerti sama pelajarannya, which I don't have them in high school. Dan belum ada beberapa bulan, aku sudah merasa nggak cocok di sana, dan sekaligus jadi stres berat. Sampe-sampe suatu hari di sela-sela doaku waktu sholat, aku inget banget sempet 'curhat' dan bertanya pada-Nya apa aku salah berdoa? Karena waktu aku SMP, aku sering banget berdoa pengen masuk SMA 78 (yaa, se-spesifik itu doaku..) dan menurutku, kalo mungkin aku terlalu memaksa-Nya supaya mengabulkan doaku, walaupun itu bukan yang terbaik untukku. What a stupid thought!

Tapi, untunglah pada akhirnya aku menemukan orang-orang yang bisa aku terima dan menerimaku apa adanya, tanpa aku harus berpura-pura menjadi orang lain. Mereka bisa menerima segala keanehan, ke-autis-an ku, dan paket lengkap kebodohan campur kecerobohan ditambah sifatku yang luar biasa pelupa itu. Haha! Dan mereka adalah sahabat-sahabatku dan keluarga keduaku (baca: Paskibra 78).

Mungkin sebagian orang akan tertawa melecehkan, karena tulisanku barusan. Apa sih? Sekte-pemuja-tiang gitu dibilang keluarga kedua. You'll never know what I've got there, kalo nggak pernah merasakannya sendiri. Dan, menurutku sayang banget bagi mereka yang menganut 'ilmu itu bisa didapat dari mana saja', tapi justru menyepelekan ekskul kesayanganku yang satu itu. Jadi jangan heran, kalo ada kerabatku atau kolegaku yang ku kenal ada yang masuk 78 akan langsung kutawarkan masuk ekskul Paskibra. Karena mereka lah, aku siap mendewasakan diriku sendiri. Yeaa right, kata-kata 'siap' itu yang selalu mereka dengungkan dulu. Dan memang benar, I'm ready to face the world. Haha! Berlebihan.

Orang-orang di atas itulah yang kemudian bikin masa-masa SMA-ku nggak se-seram, nggak se-kejam, dan nggak se-parah sebelumnya. Dari yang tadinya childish and brainless, jadi childish with brain *haha!*. Maksudnya, emang nggak langsung berubah banget juga, karena semuanya butuh proses. But, at least sekarang udah bisa 'mikir'.


And, I'm really happy to know that.. ternyata doaku nggak pernah salah, dan aku tak pernah menyesali apapun sekalipun.. ^___^

Jadi inget salah satu quote favoritku, dari film Evan Almighty:
If someone prays for patience, you think God gives them patience? Or does he give them the opportunity to be patient? If he prayed for courage, does God give him courage, or does he give him opportunities to be courageous? If someone prayed for the family to be closer, do you think God zaps them with warm fuzzy feelings, or does he give them opportunities to love each other?
And here they are, beberapa teman-temanku, and my best friends I mention before, in high school: (Foto keluarga besar Paskibranya nyusul deh,hehe.. Udah capek nih gara-gara mesti ngulang lagi tadi..)


miss you guys! heuu..

Today's Soundtrack: Esok kan Masih Ada - Firman (track no.24 di playlist-ku..)


Wish you all have a high-school-madness like me,

Ney.
Read more »
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...