Ma Vie pour La Tienne


Posting ini sebenarnya udah mau ku posting bulan lalu, tapi akhirnya malah tertiban dengan ide-ide baru. Kali ini akan saya lanjutkan hingga selesai. Enjoy.

Karena tugas telah selesai dikerjakan, skripsi belom jalan karena baru dapet pembimbing hari ini (alhamdulillah, dapet yang sesuai dengan yang aku mau. Miracle happens everyday!). Akhirnya, kuputuskan nonton film yang udah lama banget ku pinjam dari seorang teman.

My Sister's Keeper.

You know, my first impression was on Abigail Breslin (Andromeda 'Anna' Fitzgerald). She was sooo damn good! Aktingnya yaampuun, bikin nangis. T_T

Berawal dari monolog Anna tentang kelahiran.

"Most babies are accidents. Not me. I was engineered. Born to save my sister's life."

Dia memang sengaja dilahirkan untuk memberikan sumsum tulang belakangnya, untuk menyelamatkan kakaknya yang leukimia. Permasalahan dimulai ketika dia menuntut kedua orang tuanya.

Banyak komentar yang berpusing di dalam kepalaku sendiri waktu nonton itu.
1. Kok anaknya kurang ajar ya, ga tau sopan santun, durhaka. blablabla.
2. Yaa nggak bisa disalahin juga sih kalo dia menuntut emansipasi hak atas dirinya sendiri.
3. Ibunya tega banget sih, sampe segitunya ngorbanin anaknya
4. Tapi nggak bisa disalahin juga, namanya seorang ibu akan melakukan apa saja untuk anaknya.


Tapi adegan paling sedih yang bikin aku nangis, adalah waktu Anna ngebisikkin sesuatu di telinga ayahnya di rumah sakit waktu dia mau di ambil sumsum tulang belakangnya (FYI, waktu itu mungkin dia baru berumur 4 tahun.)

"Daddy, i'm scared."

Bener-bener harus liat akting anaknya.

Setelah itu, dia digendong ayahnya di depan ke ruang operasi, tapi Anna nangis sejadi-jadinya, nggak mau ngelepasin pegangannya dari ayahnya, memeluk ayahnya. Tapi akhirnya obat bius menguasai tubuh Anna dan pandangannya mulai buram.

Setelah operasi, ayahnya hanya dapat melihat tubuh Anna tergolek lemas tak berdaya.



Pertanyaannya: What will you do if you were her?

Ney.

0 comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...