Headache, My Stormy Head

Kadang aku sama sekali nggak tau tujuan aku diciptakan. Bukan kadang, sering malah. Malahan nggak ada satupun yang tahu itu. Tapi itulah inti hidup, mencari jati diri. Kayak cerita-cerita rakyat atau legenda-legenda yang pernah aku baca. Aku jadi inget satu cerita, kalo nggak salah, mamaku yang pernah cerita ini sama aku. Oia, bukan bermaksud meng-kulturisasi (like someone ever told me, hehe), tapi berhubung mamaku orang Solo, jadi yaa nggak jauh-jauh dari kebudayaan Jawa Tengah gitu deh.

Berhubung ingatanku pendek, jadi kira-kira ceritanya begini:
Arjuna tak pernah menyangka sebelumnya, bahwa dia akan mewarisi Gandiwa (busur panah yang diberikan Dewa Baruna kepadanya) sebagai senjata pusakanya. Sebelumnya yang ia tahu, ia hanya pandai memanah. Sampai suatu hari Dewa Baruna memberikan tes kepada Arjuna dan saudara-saudaranya (Pandawa) sebuah tes memanah sebuah pohon.

Ketika busur sudah dilengkungkan, dan anak panah telah ditarik, kemudian Dewa Baruna bertanya pada mereka, satu per satu, tentang apa yang mereka masing-masing lihat. Satu per satu dari mereka mengatakan melihat batang pohon, melihat ranting, melihat cabang, sampai-sampai melihat ulat di daun. Namun, ketika pertanyaan tersebut sampai ke telinga Arjuna, justru Arjuna menjawab melihat sebuah titik.

Ku pikir, telingaku mulai nggak beres. Maka ku ulangi pernyataan mamaku, "titik?" Lalu beliau menjawabnya dengan tenang, "iya titik."

Hmm, oke. Mungkin saudara-saudara Arjuna (Pandawa) juga mulai kebingungan dengan jawaban saudaranya sendiri. Namun tidak demikian halnya dengan Dewa Baruna, beliau justru terlihat sumringah dan mengatakan,"inilah yang ku cari selama ini." Alasannya, karena Arjuna justru menemukan 'titik-fokusnya'. Dan akhirnya ia pun mendapatkan Gandiwa pemberian dari Dewa Baruna. Dan pilihan Dewa Baruna memang tidak salah. Arjuna memang pemanah paling ulung yang dimiliki sepanjang sejarah Mahabharata (apalagi setelah ia mendapatkan panah Pasopati-nya di kemudian hari).

***

Waduh, udah pada tidur nih kayaknya gara-gara denger ceritaku. Oke, kita cerita yang lebih 'urban'. Lord of The Rings:
Frodo hanya seorang yang mengira dirinya Hobbit biasa seperti yang lainnya. Namun, siapa sangka takdir Middle-Earth justru berada dalam genggamannya tatkala dia diberikan tugas mahaberat, yaitu menjadi pembawa cincin iblis untuk dihancurkan dengan cara dilelehkan ke dalam lava mendidih.

Atau cerita-cerita lainnya, seperti Hercules, Harry Potter, hingga bahkan Po (Kung Fu Panda). Mereka semua memiliki satu kesamaan. Mereka nggak pernah tau jati diri mereka yang sebenarnya di dunia. Apalagi Po. Seekor Panda penjual-mie-gendut-suka-makan, ternyata the one and only Dragon Warrior. Enaknya, dia punya guru sejati yang walaupun awalnya terpaksa, tapi akhirnya menemukan teknik yang tepat untuk melatih Po menjadi The Dragon Warrior.

Dan satu lagi pelajaran dari kung fu Panda, yaitu bahwa kekuatan tak hanya sekedar showing all your muscles. Buktinya, Po nggak punya itu semua.

***

Tapi, kemudian pertanyaan dimulai waktu aku nonton The Butterfly Effects 2 (TBE 2). Di film itu, si peran utama pria bertekad mengubah 'takdir'-nya supaya jadi lebih baik. Mulai dari menyelamatkan pacarnya, menyelamatkan karir dan sahabat-sahabat, sampai akhirnya dia menemukan satu titik 'takdir'-nya sendiri, yaitu mengorbankan dirinya sendiri demi pacar dan sahabat-sahabatnya.

Atau bisa disimpulkan dia menyerah. Menyerah pada dirinya sendiri yang jika keadaannya dalam kondisi hidup, dia tak akan mampu membahagiakan pacar dan sahabat-sahabatnya itu. Waaw. Itu contoh ekstrimnya. Dan ada satu scene dimana dia 'menyabotase' takdir dengan menukar posisinya dengan bosnya (yang sangat menyebalkan), dan pada akhirnya dia justru mendapatkan situasi dimana dia bahkan jauh lebih buruk dari bosnya ketika telah berada di puncak perusahaan.

Untungnya kita nggak bisa begitu. Serem juga kalo bisa. Kita nggak akan bisa tahu jalan mana yang benar, karena udah terlalu bias mana yang jadi prioritas. Aku sih percaya that everything happened for reasons. Nggak ada yang sia-sia di dunia, kecuali kalo kita nggak pernah bisa 'mengambil' hikmahnya. Itu menurutku.

Trus pertanyaan selanjutnya, apa kita 'boleh' menyerah? Yaah andaikan kita berada di posisi si pemeran utama pria di film TBE 2, di situ dia tidak menyerah pada nasib, dan bertekad memperbaiki karirnya. Tapi karena kegigihannya itu, justru pada akhirnya (setelah dia menjadi vice pres-dir, presiden direktur) dia mengetahui bahwa dirinya nggak capable dan justru malah menghancurkan perusahaan itu. Andaikan sebelum itu dia menerima menyerah saja pada nasib.

Tapi apa jadinya kalau Einstein menyerah? Kalau Thomas Alfa Edison berhenti di tengah jalan? Atau Kartini menyerah begitu saja? Aku makin bingung.

Jadi sebenarnya kita boleh menyerah atau tidak? Dan darimana kita tahu dengan pasti bahwa apa yang kita lakukan sekarang adalah jalan yang benar, jalan yang menjadi tujuan kita diciptakan sebenarnya? Gimme some feedbacks, guys..


Still need some answers,

Ney.

0 comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...