I Hate Kolot-ism

Sebenarnya post kali ini agak nggak penting. Lagian sekarang udah jam 02.30 aja dan aku belom bisa tidur, at all. So I decided to post some stories on my blog.

Enak banget ngeliat ka Ely (one of my 'kakak-kosku' .red) tidur dengan nyenyak sekali di tempat tidurku. Lucu aja ngeliatnya, padahal sebelum dia 'tidur-dengan-nyenyak' ini, dia sempet bilang ke aku, "Ney, aku tidur di kamarmu yaa.. Nggak bisa tidur nih ka Ely.." and look she's now, sleeping with an 'angel-face' on my pillow. Kesian juga sih dia, disibukkan dengan thesis kedokteran plus flunya yang lagi akut-akutnya. Sampe-sampe suaranya jadi 'serak-serak-becek'. Hehehe.. Tapi yaa gitu, jadi nggak bisa nelpon seseorang, haha. Tapi kamu juga nggak ngabarin, aku kan jadi bingung. *lohh jadi curhat colongan gini.. haha*

Udah ah ngomongin orangnya. Ka Ely gerak-gerak, jangan-jangan berasa dia lagi diomongin,hihi.. Ampuuun kaa,hehe..

Eniwey..
Waktu hari apa itu, aku lupa, aku nonton film di XXI-Ciwalk bersama Retha, Sella, Wulan, dan Mariska (walopun di tengah-tengah film Mariska memutuskan menyerah pada sakit perut akut-nya itu .red). Kita nonton Perempuan Berkalung Sorban arahan Hanung Bramantyo.

Hmmm, awalnya aku agak males pas diajak nonton film ini. Secara film Indonesia juga kan. Tapi aku dapet pelajaran hari itu, "Never Prejudicing!". Gilaa! Hanung emang top abis. I love this movie so much. Apalagi isunya 'aku-dan-Retha-banget' yaitu feminisme. Bercerita tentang seorang perempuan yang ingin maju tapi terhambat oleh sistem kolot-isme yang menganggap Pria adalah makhluk superior dan Wanita adalah makhluk kualitas ke-2 or whatever that is called. God, kejadian seperti itu memang nyata adanya. And that facts make me really sad!

Parahnya lagi, background perempuan si tokoh utama adalah anak kyai Islam pesohor pemilik pesantren di daerah Jawa Timur. Yap, masalah agama emang sensitif di sini. Dan terus terang, aku sedih sekaligus geram karena mengetahui bahwa para pihak yang beranggapan bahwa perempuan hanya memiliki ruang lingkup domestik (dapur, ranjang, dan anak .red), dan menggunakan dalil 'agama' sebagai pembenarannya, memang benar-benar ada dan masih ada sampai sekarang. Dammit!

Padahal nggak ada tuh satu ayat pun di Al-Quran yang melarang manusia untuk maju dan berkembang. Nggak ada. Dan orang-orang jahanam itu dengan keji memotong ayat-ayat yang mereka inginkan menjadi dalil pembenarannya. Padahal Al-Quran nggak bisa dipotong-potong.

Sedih aja ngeliatnya.

Aku dulu juga pernah begitu. Secara papaku asal Yogyakarta-Padang, mamaku asal Solo-Ngawi. Adat-istiadat gitu kental banget deh. Jangan heran kalo di rumahku ada kata-kata, "Anak perawan nggak boleh bangun siang-siang," atau "Anak perawan nggak boleh berdiri depan pintu," dan nggak boleh ini-itu yang sebenarnya sepele, tapi RESE aja dengarnya. Itu juga belom lagi pria-pria di rumahku (baca: Papa dan Kakak Cowokku) yang over-protective.

Tapi satu hal juga yang aku dapat dari film itu, "Kebebasan itu diraih dengan perjuangan, bukan didapatkan secara gratis." Dan aku mengalaminya juga. Kalau aku nggak pernah 'melawan' mereka, aku nggak akan pernah...
  • masuk SMA 78 (which is SMA unggulan, tapi jauh dari rumah. Mereka nggak mau aku 'jauh' dari rumah),
  • punya 'keluarga' di Paskibra 78 (which is selalu bikin aku pulang telat, tapi aku belajar jadi dewasa di situ),
  • punya sahabat terbaikku 'Rangers' (Olan, Ricco, Stah, Chie-chie, Iah yang sering dituduh 'ngeganggu' aku belajar),
  • bisa keluar rumah, walaupun sementara, dan menuntut ilmu di Bandung (which is pengalaman terbaikku.)
Semuanya nggak akan bisa tanpa 'perlawanan'-ku dulu. Sampe berantem tiap hari di rumah gara-gara pulang malem karena Paskib. They never know what I've learned there. Mereka hanya tahu anak 'perawannya' masih berkeliaran di luar sana sampai malam.

Tapi aku buktikan mereka semua salah. Walaupun aku pulang malem, walaupun aku jauh, walaupun mereka bahkan nggak tahu aku lagi ngapain, sama siapa, dimana, udah makan atau belum, dan lain sebagainya, aku buktiin sama mereka bahwa aku bertanggung jawab dengan apa yang ku pilih. And I'm doing really fine! Walaupun mereka nggak pernah sadar itu dan akhirnya memutuskan untuk diam saja, dan mencela aku habis-habisan ketika aku melakukan kesalahan-kesalahan manusiawiku. Yeaa, honestly, they never really 'see' me.

Hmmp, ngomongin beginian cuma bikin emosi jiwa. Dan nggak bakal ada ujungnya. Pada akhirnya, mereka juga lah yang melahirkan aku, membesarkan aku, menghidupi aku, merawat aku, menjadi pelindungku semampu mereka, dan mereka nggak pernah membiarkan aku hidup dalam kekurangan. Dan semua itu udah cukup banget buatku untuk memaklumi segala kekurangan mereka.

Makin ngaco nih nulisnya. Udah jam 03.05 sekarang. And... I'm going to sleep. Besok kuliah pengganti Kajian Strategis jam 10, dan sekarang aku masih aja nongkrong di depan laptop. Autis. Huhuh..

Today's Fave Quote:
You don't love a woman because she is beautiful, but she is beautiful because you love her. -anonymous-

Smell y'all later guys,
Ney

6 comments:

yooooooooooo | January 24, 2009 at 4:38 AM

kacrutt,, dah agak mulai narsis nih blognya,,
bayarr seribuu..
saudari ney, itu perawannya di apostrope.. hayoooooo ada apa?...
hehehehehe...
truss apalgi ya..
hussss...dah pagi gitu bukannya dah tidur..
tapi menurutku yah non, si wanita nanti bakalan 'dibeli' oleh seorang pria lhoh pada akhirnya, dan ga mungkin dia dijadikan tulang punggung keluarga, so menurutku lebih baik dia mencapai pendidikan apa adanya aja. nah, lhohh..
ga enak kan nanti kalo si wanita ini juga mencari nafkah? mau jadi apa si anak yang dia lahirkan?
manusia yang menganggap 'mama' kepada baby siternya?

Neysa | January 24, 2009 at 12:49 PM

huehehe
nih kubayar..

aku nggak tlalu suka dgn istilah perawan, karena menurutku agak berbau seksualitas dan nggak penting juga kalo semua2 mitos kepercayaan Jawa selalu dikaitkan dgn status keperawanan seseorang..

lanjuut,
waaahh,aku agak sensi nih masalah beli-membeli,huehehe.. jd menurut saudara Rio,seorang perempuan 'dibeli' seperti layaknya 'membeli' barang? atau hewan peliharaan? duhduh kesian wanita.. huehehe..

beberapa laki-laki yang feminis mengerti kok kalo laki-laki dan perempuan sederajat,walaupun tetap saja dalam berkarir perempuan nggak bisa meninggalkan kodratnya (which is jadi tantangan juga sbnrnya..)

dan banyak kok wanita diluar sana yg ternyata bisa balance antara kantor dan rumah,tau nggak dengan cara apa? berbagi tugas kantor dan rumah dengan suaminya..

hayoo,skrg kehidupan rumah tangga itu kan nggak cuma beban si wanita doang kan? setuju ga?

yooooooooooo | January 24, 2009 at 8:45 PM

sangat kurang setuju mbaaa..



saudari ney, blog anda terlalu narsis deh..kata - kata sepertii:
masuk SMA 78 (which is SMA unggulan, tapi jauh dari rumah. Mereka nggak mau aku 'jauh' dari rumah).. itu tuh apa?? what?
sekolah unggulan?ya memang sih, masuk kesana harus memiliki nem tinggi waktu itu aku berada di peringkat yang terdegradasi. yahhh semogaaa ga terlalu narsiiss, soalnya seribuan kamu dah abiss kan??!! hehheheehe..

Neysa | January 24, 2009 at 11:31 PM

nggak gitu maksudnyaa..
huhu kamu iniih..
tp kan teteup kamu keterima spmb..
aku nggak

yooooooooooo | January 25, 2009 at 10:38 AM

iyaaa...
tapii ga dapet ke ITB,, hikzz...

kacruuuuutttt

Neysa | January 26, 2009 at 6:35 AM

trus knp kalo ga masuk itb?
itb bukan sgalanya kan?
hehehe

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...